Friday, 28 November 2014

Kenaikan BBM dan Gaya Hidup



Ada anggapan bahwa kalo seseorang mempunyai uang maka sebuah hobi akan tercipta dengan sendirinya. gue sependapat tapi enggak sependapat, nah loh gimana tuh?  memang kalau lo orang kaya, gampang banget untuk memilih hobi manapun yang lo mau, meskipun enggak into-into amat, asal
keliatan punya identitas aja. Tapi uang bukan permasalahan utama dari sebuah hobi, balik lagi ke passion ternyata. Suatu hari gue pernah ke bengkel motor menemani temen, di bengkel itu gue ngobrol dengan seseorang yang lagi benerin Harley Sportster-nya, doi cerita kalau dulu
punya motor itu adalah sebuah mimpi, tapi karena memang ga tahan banget doi mencicil perwujudan mimpinya, beli helm dulu lalu kerja keras beli stang, lalu beli mesin dan lain-lain sampai akhirnya jadilah motor, dan doi mengejar mimpinya itu selama 4 tahun. Otomotif adalah salah satu hobi beberapa cowok yang lumayan menguras uang dan mereka sepertinya lumayan enggak perduli soal itu, karena bagi kami mereka, otomotif adalah sebuah mainan
yang enggak main –main tapi ya karena udah sayang banget
mau gimana lagi? Semua diperhatikan kesempurnaannya termasuk BBM, BBM harus pake yang bagus ga pake BBM subsidi. soal BBM subsidi yang memang lagi diomongin banyak orang naiknya harga dari Rp 6.500,-
menjadi Rp 8.500,- itu mengundang para reaksioner-reaksioner pintar sampai yang brilian tololnya.

para kelas menengah ngehek, gaji sebulan dipaksakan untuk cicilan kendaraan, pake bensin jenis Premium biar duitnya bisa lunch di Portico dan nongki-nongki cantik di Union

Malam sebelum sahnya harga BBM subsidi naik, terlihat jalanan jakarta macet sampai jam 12 malam
karena padatnya antrian di SPBU-SPBU, dari yang gue lihat kebanyakan
yang mobil yang ngantri adalah mobil keluaran baru, mewah maupun LCGC.
Timbul pertanyaan, Kok segitu belabelainnya midnite sale BBM dimana
kenaikan cuma 2.000 perak yang kalau kita coba hitung misalnya rata-rata isi
fulltank itu 50 liter x 2.000 = 100.000. Hanya demi 100 ribu perak! Rela capek ngantri? Dan pertanyaan terbesarnya adalah, kok sepertinya yang beli Premium itu adalah orang-orang yang mampu? dalam peraturan pemerintah, BBM Subsidi tidak boleh dibeli oleh kendaraan instansi pemerintahan, LCGC, mobil di atas 2.000 cc meskipun seharga dibawah 200 juta dan mobil seharga diatas 200 juta meskipun di bawah 2.000 cc. Tapi ya meskipun mobil di bawah 200 juta atau di bawah 2.000 cc kalau liat tangki mobil atau manual book mobil mereka pasti kebanyakan bertuliskan “Ron 92” yang artinya emang enggak cocok aja diisi oktan 88 atau Premium.  Mesin mobil kalau dipaksa isi Premium dalam jangka waktu tertentu bisa menyebabkan penumpukan kerak yang kalau tetap dibiarin akan ada banyak parts yang harus diganti dan itu akan membutuhkan uang yang sangat banyak.
Well, Kita hidup di ranah yang dipenuhi dengan orang-orang yang
gengsinya tinggi, para kelas menengah ngehek, gaji sebulan dipaksakan untuk cicilan kendaraan, pake bensin jenis Premium biar duitnya bisa lunch di Portico dan nongki-nongki cantik di Union, memprotes kenaikan BBM yang hanya 2.000 perak di socmed menggunakan smartphone mahal sambil menghabiskan kopi 40 ribuan. well, i dont mean to be a moralist bastard tapi lucu aja kalau ngeliat orang yang punya mobil mewah tapi masih pake BBM subsidi, mobil jenis LCGC yang jelas-jelas enggak boleh pake Premium malah diisi Premium padahal modif mobilnya, bisa hampir seharga mobilnya. Gaya hidup premium tapi kok pake bensin di Premium-in juga?

Pemerintah Jokowi punya alasan kuat untuk mengurangi subsidi BBM,
mengurangi ya, bukan menghilangkan, malah Prabowo tadinya punya rencana akan menghilangkan subsidi BBM 100% jika beliau terpilih. Karena sangat baik kalau subsidi BBM dialihkan ke sektor-sektor yang membutuhkan,
pembangunan desa tertinggal, pembangunan jalan tol dan pastinya
semua untuk kesejahteraan masyarakat. Sepertinya kita enggak boleh egois
memprotes kenaikan BBM karena orangorang di pelosok sana membutuhkan
“2.000” lo. Pastinya ada sisi negatif dari kenaikan
BBM, yaitu kenaikan harga bahan pokok makanan, tarif kendaraan umum dan
sebagainya sementara UMR belum tentu naik. Tapi menurut gue ya gaji berapapun juga akan cukup kok, asalkan gaya hidupnya

jangan ketinggian.


Mood Mixtape

Personality Crisis (New York Dolls Cover) by Sonic Youth
"because you walk a personality, talk a personality" New York Dolls memang ntap dalam membuat lirik lagu ini, ditambah Sonic Youth juga ntap covernya hehehe

Stupid Car by Radiohead
entah Thom Yorke gitting apa pas nyanyi lagu ini, tapi gatau kenapa enak aja didenger, apalagi musim ujan begini.

Fuck 201, Fuck The Future, Fuck Everybody by Lebanon Hanover
duo asal Germany ini bisa jadi pilihan buat joget-joget ga jelas ketimbang dengerin EDM yang bikin ngisup doang, mana Larissa Iceglass nya cakep pula.